Blockchain merupakan distribusi database atau buku besar yang terbagi kedalam node dalam suatu jaringan Komputer. Blockchain menyimpan data informasi dalam format digital, sehingga sangat cocok dalam sistem cryptocurrency. Blockchain pada system cryptocurrency digunakan untuk penyimpanan digital informasi yang dapat didistribusikan dan tidak dapat dimodifikasi. Oleh sebab itu, Blockchain tersebut tidak dapat diubah, dihapus, maupun dihancurkan, sehingga Blockchain sering disebut sebagai DLT(Distributed Ledger Technology). Layanan Blockchain sendiri pun saat ini makin populer di kalangan digital agency Indonesia.

 

Mekanisme pada Blockchain

Blockchain adalah jenis database bersama yang berbeda dari database biasa dalam cara menyimpan informasinya. Blockchain menyimpan data dalam blok yang kemudian dihubungkan bersama melalui kriptografi. Dalam penyimpanannya, Data baru akan dimasukkan kedalam block baru yang menyimpan karakteristik mengenai data. Setelah itu, block tersebut akan dihubungkan dengan block yang sebelumnya telah terbuat. Dengan demikian, setiap data akan terhubung satu sama lain secara terurut seperti rantai. Terdapat berbagai jenis tipe informasi yang dapat disimpan pada Blockchain, salah satu penyimpanan umum yang menggunakan Blockchain adalah transaksi.

Dalam Mekanismenya, Blockchain memiliki 3 konsep penting sebagai berikut:

  1. Blocks
    Setiap rantai memiliki beberapa blok yang memiliki 3 elemen dasar, yaitu data dalam block, nonce, dan hash. Nonce merupakan angka yang tergenerasi secara random saat block terbentuk. Nonce menggenerasikan block header hash yang merupakan angka sebesar 256 bit yang terhubung dengan Nonce. Data yang tersimpan dalam block terikat dengan nonce dan hash pada block.
  2. Nodes
    Salah satu konsep terpenting dalam teknologi blockchain adalah desentralisasi. Karena tidak ada komputer yang memiliki rantai secara pribadi, maka node yang terhubung dengan rantai bekerja dengan mendistribusikan datanya. Node dapat berupa perangkat elektronik apa pun yang menyimpan salinan blockchain dan menjaga jaringan tetap berfungsi.
    Setiap node memiliki salinan blockchainnya sendiri dan jaringan harus secara algoritma menyetujui setiap blok yang baru ditambang agar rantai dapat diperbarui, dipercaya, dan diverifikasi. Blockchain bersifat transparan, sehingga setiap tindakan dalam data dapat dengan mudah diperiksa dan dilihat. Setiap peserta memiliki nomor identifikasi alfanumerik yang unik sehingga dapat menunjukkan transaksi apa saja yang telah mereka lakukan.
  3. Miners
    Miners membuat block baru dalam rantai melalui proses yang disebut mining.  Dalam blockchain, setiap block memiliki nonce dan hash yang unik namun dapat menyimpan informasi mengenai hash pada block sebelumnya dalam suatu rantai. Miners menggunakan software special untuk menyelesaikan masalah matematika kompleks dalam pencarian nonce yang menghasilkan hash yang diterima. Miners memiliki 4 miliar kemungkinan kombinasi nonce-hash yang harus ditambang sebelum menemukan nonce yang tepat. Oleh sebab itu, penambangan merupakan hal yang kompleks untuk dilakukan.

Membuat perubahan pada blok rantai membutuhkan dilakukannya penambangan ulang tidak hanya pada blok yang diubah, namun juga setiap blok setelahnya. Hal ini pun membuat manipulasi blockchain sulit untuk dilakukan.

 

Penulis: Dea Claresta (Software Engineer)