Keberadaan internet dan sosial media memiliki pengaruh sangat besar pada sebuah merek atau bisnis. Menurut data dari Hootsuite dan We Are Social, pada Januari 2020, Indonesia memiliki 175,4 juta pengguna internet aktif. Bersamaan dengan angka tersebut, terdapat 160 juta tercatat sebagai pengguna media sosial. Tak hanya membuat bisnis konvensional terpaksa menyesuaikan diri dengan kebaruan teknologi, namun dengan banyaknya pengguna internet dan media sosial juga menciptakan pasar sekaligus cara pemasaran baru yang kita kenal dengan istilah “Digital Marketing”. 

Untuk menyukseskan Digital Marketing yang dilakukan oleh sebuah merek, maka sebuah citra yang positif sangat diperlukan guna mendapatkan kepercayaan konsumen dan juga membuka kesempatan bisnis untuk mencapai pasar global. Sedangkan dalam membangun sebuah citra positif, sebuah pemilik merek harus mengevaluasi dan terus-menerus meningkatkan kinerja bisnisnya (Brand Development) dengan Brand Strategy yang tepat. Lalu apa pentingnya Brand Development dalam membangun citra perusahaan?

Citra atau biasa disebut dengan “Brand Image merupakan sebuah bentuk persepsi masyarakat terhadap suatu perusahaan, produk, ataupun perseorangan. Persepsi yang timbul di benak masyarakat dan konsumen sangat penting untuk mengendalikan arus penjualan maupun menstabilkan nilai yang dimiliki oleh perusahaan atau produk tersebut. Persepsi yang timbul akan menentukan kenyamanan konsumen atau masyarakat kepada pemilik merek.

Untuk membangun sebuah merek dengan citra yang baik (branding), dibutuhkan pondasi yang kuat. Pondasi yang dimaksud adalah nilai-nilai yang disuntik dalam merek tersebut, seperti menentukan positioning yang tepat, unique selling di antara kompetitor, dan promise atau janji yang diberikan oleh produk atau pemilik merek tersebut kepada konsumen. Pondasi tersebut juga dapat disebut dengan Blue Ocean Strategy. Menurut Kim dan Maugborgne (2005:26), dalam penelitiannya berjudul “Value Innovation: A Leap into the Blue Ocean” menjelaskan bahwa Blue Ocean Strategy adalah strategi perusahaan dalam menciptakan segmen pasar yang baru dan mutlak sehingga dapat membuat kompetisi bisnis baru. Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan Blue Ocean Strategy adalah GoJek. Dalam menentukan positioning, unique selling, dan promise yang sesuai, sebuah merek bisa bekerja sama dengan digital agency untuk mendapat strategi yang tepat.

Dalam membangun sebuah citra (branding), kita tak boleh melupakan indra perasa manusia: visual, komunikasi, dan sentuhan. Membangun citra yang dapat menyentuh apa yang dapat manusia lihat, dengar, dan rasakan, tentunya akan dengan mudah meninggalkan impresi. Namun, hal tersebut sulit digapai saat mengimplementasikannya melalui kanal digital. Maka dari itu, perkiraan tren pada tahun 2022, pemilik merek akan mencoba menggapai experience feels ini dengan cara seperti: memberikan image yang sangat detail sehingga dapat tergambar di benak konsumen ketika menyentuh benda tersebut, menyediakan objek 3D dengan motion, sebuah virtual reality dengan efek getar, dan masih banyak lagi. Selain itu, kita tak boleh melupakan bahwa komunikasi yang konsistensi dalam memberikan pelayanan terbaik akan membentuk citra positif dalam membangun kepercayaan publik.

Penulis: Priyadi Wicaksono (Creative Director)