Media sosial tidak hanya sebagai sarana bersosialisasi saja dalam dunia maya, saat ini bisa kita lihat berbagai bidang bisnis banyak menggunakan media sosial sebagai salah satu saluran untuk mengembangkan sayap bisnisnya, bahkan banyak juga bisnis yang telah berhasil menggunakan media sosial sebagai satu-satunya saluran utama dalam menjual bisnisnya.

Salah satu keberhasilan pebisnis mengembangkan bisnisnya melalui jejaring sosial adalah melalui beriklan. Beriklan di media sosial dinilai menjadi salah satu cara yang jitu bagi bisnis sebab dapat menjangkau banyak pengguna namun dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding dengan media konvensional lainnya. Terlebih lagi baru-baru ini salah satu agensi periklanan asal Perancis memprediksi jumlah belanja iklan media sosial seluruh dunia pada tahun 2019 akan mencapai Rp 675 triliun hanya berbanding 1% lebih kecil dari belanja iklan surat kabar. Hal tersebut membuktikan beriklan di media sosial menjadi cara yang diminati bagi bisnis ataupun brand saat ini.

Perlu diketahui, untuk beriklan di media sosial terdapat dua hal yang menjadi tolak ukur dalam menentukan berhasil atau tidaknya beriklan di media sosial seperti yang dijelaskan oleh Anthony Hartanto selaku digital strategist dari Suitmedia (digital & social media marketing).

Pertama, historical. Kita membandingkan hasil yang kita peroleh dari iklan (atau biasa disebut campaign). Misalkan campaign sebelumnya kita berhasil mendatangkan 100 calon pelanggan baru, maka campaign akan dianggap berhasil jika mendatangkan lebih dari 100 calon. Tentu dengan catatan budget yang dikeluarkan tidak melebihi dari budget campaign sebelumnya.

Kedua, benchmarking. Jika kita belum pernah melakukan campaign digital sebelumnya, kita bisa membandingkan dengan campaign non-digital. Paling sederhananya misalnya kita pernah mengadakan pameran di sebuah bazaar, kita bisa menghitung biaya untuk mendapatkan 100 calon pelanggan melalui pameran tersebut (belum sampai ke transaksi, cukup orang yang melihat-lihat ataupun hanya meminta kartu nama / alamat website). Biaya tersebut kemudian kita jadikan benchmark dalam mencari 100 orang fans melalui campaign digital.

Ia menjelaskan tidak ada formula mutlak untuk sebuah kesuksesan beriklan di media sosial, semuanya harus melewati proses trial and error. Adapun saran untuk bisnis yang kurang berhasil beriklan di berbagai platform media sosial adalah start small, berani bereksperimen, dan juga selalu berteman dengan angka.

Campaign melalui sosial media memiliki keuntungan dibanding melalui media lain yaitu semuanya tercatat dan terukur dengan lebih akurat. Sehingga semua investasi bisa langsung diukur impact nya. Namun seringkali, hal ini justru membuat brand terjebak dalam lautan angka dan keliru mendefinisikan kesuksesan, contohnya hanya mengejar jumlah fans (prospek) sebanyak mungkin tanpa mempertimbangkan kualitas prospek. Alhasil branding di media sosial tidak memberikan dampak positif terhadap bisnis utama (transaksi), ujung-ujungnya mereka menjadi skeptis dan trauma.

Narasumber : Anthony Hartanto (Digital Strategist Suitmedia)