Kehadiran fitur Instagram stories kian disambut positif oleh para penggunanya. Terlebih lagi di bulan Oktober kemarin, Instagram telah mengupdate fiturnya dengan memasukan Instagram stories pada tampilan tab explore sehingga video stories yang diposting bisa dilihat oleh banyak pengguna lainnya. Format baru ini tentunya membawa keuntungan tersendiri bagi pemain akun Instagram yang mewakili sebuah brand/produk agar lebih dikenal secara luas di jagat dunia Instagram. 

Konten video pada Instagram stories (vertical video) kontennya terlihat emosional dan cenderung instan dalam membuatnya, namun membuat video tanpa mempunyai tujuan yang pasti, justru dapat menjadi jebakan bagi banyak brand ataupun produk yang memanfaatkan fitur tersebut.

Untuk menghindari hal tersebut, Anthony Hartanto selaku Digital Strategist dari Suitmedia (digital & social Media Marketing) mendeskripsikan tiga macam gambaran mengapa akun bisnis ataupun brand menjadi popular di Instagram. Hal tersebut patut ditiru oleh brand lainnya.

Pertama, identitas yang unik. Mayoritas Instagram stories yang paling diminati oleh para pengguna adalah melihat keunikan selebriti. Hal yang menarik perhatian terletak pada penampilan fisik dan juga pembawaan selebriti tersebut sehingga membuat mereka merasa semakin dekat juga membuat rasa penasaran akan hal yang dilakukan selebriti tersebut.

Brand dapat memanfaatkan selebritis (buzzer) untuk menampilkan solusi yang inovatif terkait kegunaan brand itu sendiri kepada para audiens. Brand seperti ini biasanya berkreasi menggunakan Instagram stories untuk menonjolkan keunikan produk mereka dan memberikan inovasi di situasi nyata melalui buzzer atau artis yang mereka pilih yang sesuai dengan citra dari produk mereka.

Kedua, identitas yang eksklusif. Lain halnya dengan akun yang sudah populer karena kualitas fotografi yang menarik namun tidak pernah terlihat dengan jelas identitas pemilik akun tersebut sehingga terlihat masih saja “dingin”. Akun seperti ini misalnya akun brand fashion yang foto-fotonya cenderung expression less berbentuk katalog sehingga tidak ada sentuhan emosionalnya.

Akun brand seperti ini biasanya berkreasi menggunakan Instagram stories dengan membuka sedikit proses dibalik pembuatan katalog terbaru dan menceritakan bagaimana proses pengambilan foto yang tidak semudah dibayangkan sehingga mampu menarik perhatian audiens juga membuat hubungan dengan akun brand terasa lebih hangat dan dekat.

Ketiga, identitas yang konsisten. 9gag sudah dikenal sebagai brand yang menghadirkan humor dari berbagai genre yang datang dari para pengguna Internet (crowd sourcing) dalam format gambar dan gif. Ketika muncul fitur Instagram stories, 9gag pun secara konsisten mempertahankan identitasnya dengan menampilkan video-video lucu dari penggunanya namun dalam format konten vertikal video. Tidak hanya unik saja, dibutuhkan konsistensi identitas yang kuat agar brand bisa bertahan dan relevan terhadap perkembangan yang ada. Brand seperti ini biasanya melakukan riset dan pengembangan cerita dengan lebih matang dalam penyesuaian mereka ke format konten vertikal video.

Ketiga hal tersebut saat ini masih menjadi alasan utama mengapa sebuah brand yang memanfaatkan fitur Instgram stories mampu merebut hati penggunanya. Anthony menambahkan, fitur terbaru Instagram ini merupakan salah satu tools yang bisa membantu kita untuk memperkuat identitas dan menjalin hubungan yang lebih dekat kepada penggemar setia sebuah brand.

Perlu diingat bagi sebuah brand/produk sebelum ikut membuat Instagram stories, tanyakan terlebih dahulu pada brand kita sendiri, apa identitas brand yang ingin diceritakan.

Sumber : Wartaekonomi