Hard Selling vs. Soft Selling dalam Industri Material: Mana Strategi yang Cocok untuk Penjualan Bahan Bangunan?

11 August 2025

Penulis Muhammad Lutfi Rachman (Junior Digital Strategist)

Editor Jessica Patricia (Copywriter)

Hard Selling vs. Soft Selling dalam Industri Material: Mana Strategi yang Cocok untuk Penjualan Bahan Bangunan?

Di semua industri, bisnis perlu memperhatikan strategi penjualan yang cocok dengan konsumen, termasuk dalam bisnis bahan bangunan. Pemilihan strategi penjualan yang tepat sasaran dengan konsumen akan mendatangkan lebih banyak sales bagi perusahaan.

Salah satu strategi penjualan yang patut diperhatikan adalah teknik komunikasi promosi, yaitu bagaimana perusahaan dapat berkomunikasi dengan konsumen untuk membeli produk yang dijual. Salah satu yang sering jadi perdebatan adalah untuk memilih mana yang lebih baik diantara teknik komunikasi promosi secara hard selling dan soft selling.

Kedua teknik tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, sehingga harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan konsumen. Lantas, bagaimana perusahaan bahan bangunan bisa memilih strategi penjualan antara hard selling dan soft selling? Mari simak penjelasannya di bawah ini.

Apa Itu Hard Selling?

Hard selling adalah strategi penjualan yang bersifat langsung dan to the point. Hard selling ini merupakan teknik penjualan yang agresif dengan tujuan agar konsumen dapat dengan cepat melakukan transaksi dengan bisnis.

Walaupun hard selling cukup unggul dalam segi memperkenalkan produk kepada konsumen secara to the point, namun beberapa konsumen merasakan tertekan dan terburu-buru saat menerima promosi hard-selling. Hal ini membuat konsumen merasa terpaksa menerima promosi tersebut. Namun, metode hard selling ini dapat membangun urgensi pada konsumen, sehingga cukup mendorong konsumen untuk segera membeli.

Di dalam teknik hard selling, biasanya perusahaan akan memaparkan keunggulan produk secara agresif dan memberikan diskon terbatas untuk membangun urgensi pada konsumen. Karena bersifat cukup agresif, hard selling ini sering digunakan untuk one time sales jangka pendek dan mengorbankan potensi hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Apa Itu Soft Selling?

Soft selling adalah pendekatan yang lebih halus dan tidak agresif. Tujuan dari soft selling adalah membuat konsumen penasaran dan membangun empati serta hubungan dengan konsumen. Di dalam pendekatan ini, konsumen tidak terasa dipaksa untuk mengetahui informasi produk tersebut dan bahkan seringkali audience tidak sadar bahwa konsumen sedang mendapatkan promosi soft selling.

Di dalam teknik soft selling, perusahaan tidak akan langsung memaparkan keunggulan produk nya, tetapi perusahaan akan membangun hubungan dan empati dengan konsumen dengan membawakan topik yang konsumen sukai terlebih dahulu dan baru kemudian sedikit demi sedikit memperkenalkan produk.

Karena fokus pada membangun empati, teknik soft selling dapat dengan natural membangun hubungan dengan audience. Selain itu, informasi mengenai produk tidak akan disampaikan secara lengkap layaknya hard selling sehingga potensi bagi konsumen untuk memiliki urgensi membeli di saat itu juga cenderung kecil.

BACA JUGA: Strategi Content Marketing untuk Menjangkau Pelanggan Baru di Industri Material

Bagaimana Penerapan Strategi Hard Selling dan Soft Selling dalam Meningkatkan Efektivitas Penjualan Bahan Bangunan?

Lalu, teknik penjualan apa yang sebaik-nya digunakan oleh perusahaan bangunan? Jawabannya tergantung pada karakteristik produk serta konsumen yang diincar. 

Jika produk yang dijual merupakan produk yang banyak dicari oleh konsumen dan memiliki value proposition yang jelas, maka hard selling dapat menjadi teknik yang tepat untuk digunakan. Namun, jika produk yang dijual adalah jenis produk baru yang belum banyak diketahui, maka teknik soft selling dapat menjadi teknik yang tepat untuk digunakan.

Selain itu, jika konsumen merupakan orang yang sudah tahu apa yang ingin dibeli dan sedang mencari penawaran terbaik, maka teknik hard selling akan lebih cocok untuk digunakan, sedangkan jika konsumen mungkin belum memiliki ketertarikan yang besar terhadap produk dan masih menimbang-nimbang, maka teknik soft selling akan lebih cocok untuk digunakan.

Sebagai perusahaan bangunan, tentunya Anda harus mengetahui terlebih dahulu mengenai karakteristik produk dan konsumen karena tidak selalu harus menggunakan satu teknik saja dalam segala situasi. Anda bisa melakukan kombinasi teknik soft selling atau hard selling sesuai dengan situasi. 

Misalnya, konten sosial media menggunakan metode soft selling sebagai upaya memperkenalkan produk pada masyarakat luas. Ketika konsumen mulai bertanya kepada sales perusahaan atau saat mengikuti bazaar event tertentu untuk menjual produk, maka Anda bisa menggunakan sedikit teknik hard selling untuk membangun urgensi pada konsumen agar membeli produk.

Optimalkan Komunikasi Bisnis Bersama Suitmedia Digital Agency

Dengan memahami kapan harus menggunakan pendekatan soft selling maupun hard selling, perusahaan dapat membangun komunikasi yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan konsumen. Strategi ini bukan hanya memperkuat bisnis, tetapi juga mendorong hasil secara lebih terukur. Oleh karena itu, penting bagi bisnis untuk merancang strategi pendekatan komunikasi yang menyeluruh dan berorientasi pada hasil.

Untuk memaksimalkan efektivitas strategi hard selling dan soft selling, perusahaan bahan bangunan juga perlu mempertimbangkan pendekatan pemasaran yang lebih menyeluruh dan terintegrasi. Sebagai digital agency Indonesia, Suitmedia membantu perusahaan bahan bangunan untuk membentuk strategi komunikasi yang tepat sasaran dan konsisten di berbagai kanal. Percayakan kebutuhan Anda pada Suitmedia Digital Agency untuk pemasaran yang berdampak besar serta hasil yang terukur!

Related Articles