Ramadan selalu menjadi bulan yang spesial bagi setiap umat muslim, tidak mengherankan jika umat muslim selalu berusaha mempersiapkan serba-serbi kebutuhan Ramadan dengan baik. Hal ini secara tidak langsung menstimulasi banyak orang untuk berbelanja dan menghabiskan uang lebih banyak daripada biasanya. Namun, ada yang berbeda dengan bulan puasa tahun ini, pandemi Covid-19 menuntut penyesuaian terhadap banyak hal, salah satunya adalah perilaku berbelanja yang kini bergeser menjadi belanja online. Lantas, timbul pertanyaan terkait perilaku belanja selama pandemi Covid-19 melanda, kira-kira hal apa saja yang berubah dan bagaimana perubahan tersebut akan memberi dampak pada perilaku belanja online khususnya pada bulan Ramadan?

Menurut laporan Google, Temasek dan Bain & Company pada dokumen laporan e-Conomy SEA 2020, selama pandemi pengguna jaringan internet  di Asia Tenggara terus bertambah, tercatat terdapat 40 juta pengguna baru di tahun 2020. Di Indonesia sendiri, 37% dari total pengguna layanan digital adalah pengguna baru, dimana 93% dari pengguna baru tersebut memiliki tendensi atau kecenderungan untuk melanjutkan penggunaan layanan digital mereka pasca pandemi. Selain itu, di Indonesia juga terjadi peningkatan pada rata-rata lama penggunaan internet dalam sehari, yang dimana pengguna menghabiskan waktu rata-rata 4.3jam perhari (sebelum pandemi rata-rata 3.6jam per hari) untuk kebutuhan personal saja. Hal ini menunjukan adanya perubahan perilaku masyarakat dimana semakin banyak yang menggunakan internet dan beradaptasi untuk menggunakan berbagai layanan digital yang ada.

Fenomena diatas muncul akibat ketatnya protokol kesehatan yang perlu dipatuhi ketika memutuskan beraktivitas di luar rumah selama pandemi ini melanda, alasan pendukung lainnya adalah adanya kebijakan work-from-home yang memunculkan keterbatasan akses serta ruang gerak masyarakat, mengingat hampir segala sesuatunya kini dilakukan dari rumah. Kedua hal ini membuat masyarakat mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan. Internet menjadi pilihan utama mengingat aksesnya yang mampu memudahkan masyarakat untuk memperoleh berbagai barang dan jasa esensial, mulai dari makanan, hiburan, kesehatan hingga pendidikan. Internet menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Alasan lainnya yang tidak kalah kuat dari perubahan perilaku belanja online masyarakat adalah kebutuhan dan prioritas masyarakat selama pandemi yang mengalami perubahan. Hal ini tergambar pada grafik dibawah ini dimana banyak pengguna yang beralih online untuk menggunakan layanan Food Delivery (Pengantaran Makanan), Groceries (Bahan Makanan & Kebutuhan Sehari-hari), Education (Pendidikan) dan Music & Video Streaming (Hiburan).

Figure 1 Sumber: e-Conomy SEA 2020 Report

Tren tersebut diprediksi akan terus berlanjut dan tidak terkecuali pada bulan Ramadan. Penggunaan layanan food delivery dan groceries menggunakan aplikasi online kemungkinan akan semakin meningkat pada bulan Ramadan, mengingat pada saat puasa kebutuhan akses yang mudah untuk membeli makanan dan bahan masakan sangat diperlukan untuk berbuka dan sahur. Terlebih lagi saat ini restoran sudah mulai banyak menyediakan pilihan menu ready-to-cook dan frozen food yang dapat dimasak dengan cepat dan makanan akan masih terasa fresh ketika disantap. Jadi kita tidak perlu lagi repot menyiapkan hidangan berbuka maupun sahur ataupun tidak perlu membahayakan diri dengan berkerumun di restoran untuk berbuka bersama. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan groceries juga akan mudah dilakukan dengan melakukan pembelian melalui aplikasi online yang khusus menjual aneka sayur dan bahan masakan lainnya, aplikasi ojek online, dan bahkan beberapa e-commerce/marketplace juga sudah menyediakan kategori khusus bahan masakan (baik fresh maupun keperluan dapur lainnya).

Menilik dari data dan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa e-commerce dan online retailer perlu mempersiapkan strategi yang tepat berkaitan dengan produk dan layanan agar dapat bersaing merebut hati konsumen. Terlebih, transaksi e-commerce di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan sebanyak 54%. E-commerce dan online retailer harus bisa memanfaatkan kesempatan dan kondisi yang telah disebutkan diatas untuk memenuhi kebutuhan dari penggunanya serta sebagai upaya untuk bisa bertahan dan terus berkembang di tengah keadaan ekonomi yang belum stabil ini. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Menyediakan kategori produk yang menunjang kebutuhan pengguna
    Seperti data diatas, banyak pengguna yang menggunakan jasa food delivery dan groceries, maka untuk bisa memenuhi kebutuhan terkait hal tersebut sebaiknya e-commerce dan online retailer mulai mencoba menyediakan kategori produk bahan masakan fresh dan lainnya, makanan frozen dan ready-to-cooked,  dan sejenisnya.
  2. Menjalin kerjasama dengan pihak ketiga
    Untuk mendukung pengadaan kategori produk tersebut, e-commerce dan online retailer dapat bekerjasama dengan pasar, restoran atau kafe, UMKM, department store or minimarket dalam menyediakan produk-produknya sehingga terdapat banyak variasi yang dapat menjangkau pengguna lebih luas lagi.
  3. Memperkuat sistem pembayaran online/digital
    Pada masa pandemi ini, pengguna sudah mulai cenderung menggunakan metode pembayaran online/digital pada transaksi yang dilakukan. Berdasarkan riset Kantar ditemukan bahwa pada tahun 2020 rata-rata transaksi dengan menggunakan e-wallet mengalami peningkatan dari 18% menjadi 25%, berbanding terbalik dengan metode pembayaran cash yang mengalami penurunan dari 48% menjadi 37%. Selain itu, seiring dengan meningkatnya transaksi online, tentu harus dibarengi dengan diperkuatnya fitur pembayaran secara online agar transaksi yang dilakukan bisa berjalan lebih efektif dan seamless. Jika belum memiliki fitur pembayaran digital sendiri, e-commerce maupun online retailer dapat bekerjasama dengan penyedia sistem pembayaran digital yang telah terverifikasi oleh OJK.
  4. Menyediakan jasa pengiriman yang efektif
    Pengiriman makanan, frozen food, dan bahan masakan membutuhkan waktu pengiriman yang cepat untuk menjaga kesegarannya. Untuk mendukung hal ini, perlu disiapkan jasa pengiriman yang bisa mendukung pengiriman instan dan sameday agar makanan bisa diterima oleh pelanggan paling lama 6 jam setelah dilakukan pemesanan. Selain itu untuk frozen food diperlukan perlakuan khusus dalam pengirimannya dan packaging-nya, sehingga makanan bisa tahan lama dan masih baik ketika diterima oleh pelanggan.

Selain berfokus pada strategi produk dan layanan, e-commerce dan online retailer juga perlu meningkatkan awareness. Lantas, bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan awareness dan penjualan di saat yang sama? Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi peningkatan kedua hal tersebut, namun setidaknya terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh e-commerce dan online retailer:

  1. Melakukan optimasi SEO
    Optimasi SEO perlu dilakukan untuk meningkatkan ranking website pada mesin pencari, sehingga jika pengguna melakukan pencarian berdasarkan keywords tertentu, website akan muncul pada halaman 1 mesin pencari. Hal ini akan meningkatkan awareness pengguna terhadap website dan meningkatkan probabilitas website diklik.
  2. Menerapkan online marketing
    Penerapan online marketing dilakukan untuk meningkatkan brand awareness melalui penyebaran pesan dan konten kreatif mengenai produk, brand atau layanan perusahaan melalui media sosial, email marketing, search engine marketing, display advertising dan sebagainya dengan harapan dapat menjangkau pengguna potensial.
  3. Bekerjasama dengan brand besar
    Melakukan inovasi dan kolaborasi dengan brand besar untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan dalam jangka waktu panjang.
  4. Berkerjasama dengan influencer
    Berkolaborasi dengan influencer yang sesuai dengan citra perusahaan untuk mempromosikan brand beserta produk yang dijual. Hal ini dapat membuat brand atau produk tersebut dikenal oleh follower mereka dan meningkatkan posibilitas dalam mendapatkan pelanggan baru hingga terjadi conversion.

Melihat dan memahami serba-serbi perilaku belanja online ketika Ramadan dari sisi masyarakat serta berbagai strategi yang dapat diterapkan oleh untuk memikat konsumen oleh e-commerce dan online retailer memang sangat menarik. Kedua hal ini secara tidak langsung memberikan sekelumit gambaran tentang pola konsumsi selama Ramadan di tengah berbagai penyesuaian akibat pandemi Covid-19.

Penulis: Mutia Ovirza (Technical Manager)